Selasa, 20 November 2012

Pelajaran Hidup Dari Titanic

  2 comments    
categories: 
Titanic

Sahabat mungkin berpikir tentang romantisnya kisah cinta Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet dalam film Titanic. Tetapi Sahabat mungkin tidak memperhatikan bagaimana karakter perancang kapal, kapten, para penumpang kapal yang bereaksi di depan kematian:
  1. Perancang kapal tampak merasa bersalah, ia sedih dan menyesal, merenungkan kesalahan yang telah ia buat, dan membiarkan yang lain berlari ke perahu penyelamat.
  2. Sang kapten tampak penuh dengan keterikatan, terjebak oleh reputasinya yang rusak dan mimpi indah pensiunnya yang hancur. Ia memegang topinya, tidak mencoba menyelamatkan diri, berdiam diri menunggu kematian. Terlalu angkuh?
  3. Si orang jahat sungguh tak bermoral, mencoba menyuap dan menipu untuk menyelamatkan diri sendiri.
  4. Sang petugas tidak sanggup lagi menahan beratnya tekanan saat mencoba menertibkan keadaan. Ia terpaksa menembak salah seorang penumpang yang tidak mau antri. Merasa menyesal dan tak berdaya, ia menembak dirinya sendiri!
  5. Ada juga orang-orang yang langsung terjun ke laut berenang mengejar perahu penyelamat yang sudah bergerak.
  6. Ada juga mereka yang berdoa dengan penuh semangat memohon pertolongan.
  7. Orang biasa, saling berebut untuk sapat masuk ke dalam perahu penyelamat.
  8. Terdapat juga mereka (seperti Jack dan Rose) yang tidak mau lepas satu sama yang lain, tapi tak peduli dengan sekitar! Betapa egois cinta buta itu.
  9. Dan tentu saja, ada sekelompok pemain musik yang membuat sejarah dengan terus memainkan musik sampai mati di tengah orang-orang yang panik.
Jadi pertanyaannya adalah: jika Sahabat berada di dalam kapal Titanic pada malam itu, Sahabat akan bereaksi seperti apa? Sahabat anggap reaksi itu tepat? Apanya yang tepat?
Titanic merupakan bencana besar yang nyata. Ia merupakan satu-satunya kapal dalam sejarah yang diklaim tidak dapat tenggelam, namun ia karam dalam pelayarannya yang pertama. Apa hubungannya dengan kita? Kita semua mempunyai kapal Titanic yang besar. Sahabat mungkin berpikir hidup Sahabat akan aman-aman saja dan tidak perlu repot untuk memikirkan bahaya yang tidak masuk akal. Tetapi siapa pernah menyangka 2006 silam, Bantul Yogyakarta diguncang gempa bumi dahsyat dan menelan kurang lebih 6000 korban manusia?
Gempa Bantul, Mei 2006
Dari kisah Titanic itu kita belajar bahwa dalam keadaan normal, setiap orang tampak baik, ramah, bersahabat. Sulit untuk tahu siapa yang sebenarnya berkarakter baik atau buruk. Namun begitu krisis melanda, pada saat itulah sifat asli setiap orang muncul. Ibarat banjir yang mengeluarkan semua kotoran, demikia  pula ketika kesusahan dan kemalangan terjadi, muncul dengan jelas siapa yang berperangai baik dan siapa berperangai buruk.
Pelajaran penting lainnya adalah banyak di antara Sahabat yang merasa Titanic-nya tidak akan pernah karam. Mereka sangat yakin tidak akan ada kebangkrutan ekonomi dan tidak akan terjadi kemalangan dalam keluarga. Mereka tidak merasa bahwa mereka dapat dikalahkan oleh usia, penyakit, dan kematian. Tak terkalahkan melawan hukum, tak terjamah oleh alam, tak tersentuk kegagalan. Pada akhirnya ketika mereka terpuruk dan jatuh barulah mereka sadar Titanic besar yang aman hanya omong kosong belaka.

2 komentar:

  1. artikel yang bagus,,, sangat menginspirasi dan memberikan banyuaaaaaaaaaaaak pelajaran

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah. Terima kasih :)

    BalasHapus

Bagi yang sudah berkunjung silakan jangan lupa isi komentarnya disini...
Terimakasih^^