Jumat, 23 Maret 2012

Keadilan: Barang langka di tengah upaya memajukan bangsa


Sumber : Google
Setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, kali ini saya hadir kembali dengan sebuah tulisan yang lebih baru dan fresh. Mari tundukkan sejenak kepala kita, kita berdoa agar kawan-kawan kita yang sampai saat ini berhalangan untuk posting karena alasan tertentu agar bisa meramaikan kembali dunia per-blog-an tanah air.

Baik langsung saja, baru-baru ini Saya melihat kembali aksi Pak Indra Azwan yang ditayangkan di televisi, beliau melakukan jalan kaki dari Malang ke Jakarta untuk menuntut keadilan dan mengembalikan uang senilai Rp 25.000.000,- bahkan dalam wawancara dengan reporter televisi tersebut ia menyatakan rencananya untuk melanjutkan jalan kaki menuju Mekah, Arab Saudi apabila permintaannya sejak beberapa  tahun yang lalu itu tidak dipenuhi oleh Presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Perjalanan Malang-Jakarta tersebut ditempuhnya sebagai bentuk ekspresi kekecewaannya terhadap ketidakadilan yang terjadi atas kasus kematian anaknya yang bernama Rifki Andika akibat tabrak lari oleh seorang polisi yang bernama Joko Sumantri pada tahun 1993 silam.


Indra Azwan - Sang Pencari Keadilan


Fakta yang mencengangkan seperti yang Saya kutip dari http://makassaronline.blogspot.com/ ialah seperti ini:

Selama 19 tahun, Indra tersiksa karena menyaksikan penabrak anaknya melenggang bebas dari jerat hukum. Dalam putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya bernomor PUT/05-K/PMT.III/POL/II/ 2008, Joko dibebaskan dari segala tuntutan karena kasusnya dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun sejak kecelakaan tahun 1993 hingga dibukanya sidang tahun 2008.


"Hati saya hancur. Saya enggak bisa membayangkan betapa sakitnya anak saya diperlakukan seperti itu. Setelah ditabrak, kok, ditinggal begitu saja. Ada ribuan orang yang mungkin nasibnya seperti saya".

-- Indra Azwan



Padahal, pada putusan yang sama, majelis hakim yang dipimpin Kolonel Laut AR Tampubolon membenarkan terdakwa (Joko) secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana ”yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain”.



Selama rentang 1993-2008, Indra berkali-kali bertanya kepada polisi ataupun Detasemen Polisi Militer Malang mengenai kelanjutan kasus Rifki. Namun, ia dianggap angin lewat.



Sepenggal kisah di atas tersebut benar-benar terjadi. Inilah realita yang terjadi di sekitar kita!
Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi di negara yang menganut paham demokrasi  seperti kita ini?
Jargon demokrasi kan Suara Rakyat, Suara Tuhan”, melihat perlakuan yang menimpa Pak Indra, dimana suaranya kurang didengar bahkan cenderung diabaikan, itu berarti sama saja pemimpin kita sudah (maaf) kafir karena tidak mendengar Suara Rakyat yang tak lain adalah Suara Tuhan.

Pergantian seorang pemimpin (melalui ajang PEMILU 5 tahun sekali) dirasa kurang begitu berarti karena tidak memberikan efek yang signifikan. Menurut pandangan Saya, yang salah adalah sistemnya. Maka yang perlu diganti/diperbaiki adalah sistemnya tersebut bukan si pemimpinnya. Karena apabila ini terus berjalan tanpa adanya perubahan di sistemnya, seorang pengganti pemimpin tidak akan mampu mengubah keadaan karena ia hanya melanjutkan kembali sistem yang sudah ada sebelumnya.

Beralih ke masalah sosial, bisa kita lihat dan rasakan berbagai bentuk ketidak adilan yang merajalela di negeri kita ini. Kita bisa melihatnya melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Dan kita juga bisa merasakannya mungkin melalui pengalaman pribadi. Ngomong-ngomong masalah pribadi, tentu Saya pernah bahkan seringkali mendapati keadaan tersebut menimpa Saya. Sebagai contoh, dalam hal pekerjaan.

Dewasa ini, sulit sekali kita bekerja di suatu perusahaan jika tidak ada orang yang memasukkan kita (biasanya pegawai dari dalam) atau istilah populernya adalah orang dalem. Informasi mengenai lowongan pekerjaan pun tidak dipublish untuk umum dan hanya berputar di kalangan pegawai saja. Itu hanya contoh kecilnya, masih banyak ketidak adilan yang kerap menimpa rakyat kecil di negeri ini.

Semoga tulisan singkat dari Saya ini mampu menggerakkan hati ‘mereka’ yang paham akan keadilan agar bisa menjalankan hukum dengan seadil-adilnya tanpa adanya pandang bulu.

Demikian dari Saya, semoga bermanfaat.



8 komentar:

  1. betul bang..
    di negeri ini sulit pisan wat nyari keadilan..
    semoga Indonesia tercinta kita ini bisa Lebih Adil Dalam Menegakan hukum..

    BalasHapus
  2. @eta aink : mari sama-sama kita berdoa..

    #SemogaSaja

    BalasHapus
  3. @Kelompok 4 / XI IPA-1 : ya tentu saja, hanya ALLAH S.W.T. yang bisa Adil :)

    BalasHapus
  4. Nice article sob...

    Yuk, kita berbuat sesuatu yg lebih baikdr diri sendiri, dlm hal sekecil apapun..

    Salam

    BalasHapus
  5. @asepsaiba: terimakasih sob, emang betul segala sesuatunya harus dimulai dari diri sendiri .. mari laksanakan :)

    BalasHapus
  6. ...ehm ternyata masih ada yang peduli ama keadilan....okeh semangat...teruskan...

    BalasHapus
  7. @gama wijaya: kalau bukan kita siapa lagi :)
    siap, LANJUTKAN ..

    BalasHapus

Bagi yang sudah berkunjung silakan jangan lupa isi komentarnya disini...
Terimakasih^^