Senin, 26 Maret 2012

Membeli Kebahagiaan




Laila murad, seorang pemain drama bangsa yahudi, ketika diwawancarai oleh wartawan, bercerita tentang suaminya, Anwar Wajd, “suamiku adalah seorang dramawan yang lugu. Suatu ketika, ia mengutarakan isi hatinya kepadaku bahwa ia bercita-cita ingin memiliki yang sebanyak sejuta poundsterling (mata uang inggris) meskipun ia harus menderita suatu penyakit. Lalu aku bertanya kepada suamiku, “untuk apa uang sebanyak itu jika engkau harus menderita suatu penyakit?” Suamiku menjawab, sebagian dari uang itu akan aku gunakan untuk berobat, sedang sisanya akan aku gunakan untuk membeli kebahagiaan. Tidak berapa lama kemudian, cita-cita suamiku menjadi kenyataan. Ia memperoleh uang lebih dari sejuta poundsterling. Tetapi kemudian mendadak ia diserang penyakit kanker hati. Maka uang yang ia miliki habis untuk berobat, tetapi penyakit yang ia derita tak kunjung sembuh. Sampai-sampai setiap hari pun ia tak mau makan kecuali sedikit. Ia tak bisa makan banyak. Akhirnya, ia meninggal dengan membawa penyesalan yang amat dalam.”

TTT 

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran bahwa manusia hanya dapat merencanakan tetapi ALLAH S.W.T. lah yang menentukan. Kemudian pelajaran lain yang dapat diambil ialah kesehatan merupakan anugerah yang tak ternilai harganya (jika kita mau berfikir), serta bahwasanya kebahagiaan itu tidak bisa dibeli oleh uang. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang bersyukur bagaimanapun keadaan yang kita alami serta dijauhkan dari segala bentuk sifat kufur yang dapat menyebabkan kita mendapat siksaan yang amat pedih.

Wallahua’lam bisshawab..









Sumber referensi: kertas hafalan mata kuliah Agama Islam 


Jumat, 23 Maret 2012

Keadilan: Barang langka di tengah upaya memajukan bangsa


Sumber : Google
Setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, kali ini saya hadir kembali dengan sebuah tulisan yang lebih baru dan fresh. Mari tundukkan sejenak kepala kita, kita berdoa agar kawan-kawan kita yang sampai saat ini berhalangan untuk posting karena alasan tertentu agar bisa meramaikan kembali dunia per-blog-an tanah air.

Baik langsung saja, baru-baru ini Saya melihat kembali aksi Pak Indra Azwan yang ditayangkan di televisi, beliau melakukan jalan kaki dari Malang ke Jakarta untuk menuntut keadilan dan mengembalikan uang senilai Rp 25.000.000,- bahkan dalam wawancara dengan reporter televisi tersebut ia menyatakan rencananya untuk melanjutkan jalan kaki menuju Mekah, Arab Saudi apabila permintaannya sejak beberapa  tahun yang lalu itu tidak dipenuhi oleh Presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Perjalanan Malang-Jakarta tersebut ditempuhnya sebagai bentuk ekspresi kekecewaannya terhadap ketidakadilan yang terjadi atas kasus kematian anaknya yang bernama Rifki Andika akibat tabrak lari oleh seorang polisi yang bernama Joko Sumantri pada tahun 1993 silam.


Indra Azwan - Sang Pencari Keadilan


Fakta yang mencengangkan seperti yang Saya kutip dari http://makassaronline.blogspot.com/ ialah seperti ini:

Selama 19 tahun, Indra tersiksa karena menyaksikan penabrak anaknya melenggang bebas dari jerat hukum. Dalam putusan Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya bernomor PUT/05-K/PMT.III/POL/II/ 2008, Joko dibebaskan dari segala tuntutan karena kasusnya dianggap kedaluwarsa, yakni melewati waktu 12 tahun sejak kecelakaan tahun 1993 hingga dibukanya sidang tahun 2008.


"Hati saya hancur. Saya enggak bisa membayangkan betapa sakitnya anak saya diperlakukan seperti itu. Setelah ditabrak, kok, ditinggal begitu saja. Ada ribuan orang yang mungkin nasibnya seperti saya".

-- Indra Azwan



Padahal, pada putusan yang sama, majelis hakim yang dipimpin Kolonel Laut AR Tampubolon membenarkan terdakwa (Joko) secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana ”yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain”.



Selama rentang 1993-2008, Indra berkali-kali bertanya kepada polisi ataupun Detasemen Polisi Militer Malang mengenai kelanjutan kasus Rifki. Namun, ia dianggap angin lewat.



Sepenggal kisah di atas tersebut benar-benar terjadi. Inilah realita yang terjadi di sekitar kita!
Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi di negara yang menganut paham demokrasi  seperti kita ini?
Jargon demokrasi kan Suara Rakyat, Suara Tuhan”, melihat perlakuan yang menimpa Pak Indra, dimana suaranya kurang didengar bahkan cenderung diabaikan, itu berarti sama saja pemimpin kita sudah (maaf) kafir karena tidak mendengar Suara Rakyat yang tak lain adalah Suara Tuhan.

Pergantian seorang pemimpin (melalui ajang PEMILU 5 tahun sekali) dirasa kurang begitu berarti karena tidak memberikan efek yang signifikan. Menurut pandangan Saya, yang salah adalah sistemnya. Maka yang perlu diganti/diperbaiki adalah sistemnya tersebut bukan si pemimpinnya. Karena apabila ini terus berjalan tanpa adanya perubahan di sistemnya, seorang pengganti pemimpin tidak akan mampu mengubah keadaan karena ia hanya melanjutkan kembali sistem yang sudah ada sebelumnya.

Beralih ke masalah sosial, bisa kita lihat dan rasakan berbagai bentuk ketidak adilan yang merajalela di negeri kita ini. Kita bisa melihatnya melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Dan kita juga bisa merasakannya mungkin melalui pengalaman pribadi. Ngomong-ngomong masalah pribadi, tentu Saya pernah bahkan seringkali mendapati keadaan tersebut menimpa Saya. Sebagai contoh, dalam hal pekerjaan.

Dewasa ini, sulit sekali kita bekerja di suatu perusahaan jika tidak ada orang yang memasukkan kita (biasanya pegawai dari dalam) atau istilah populernya adalah orang dalem. Informasi mengenai lowongan pekerjaan pun tidak dipublish untuk umum dan hanya berputar di kalangan pegawai saja. Itu hanya contoh kecilnya, masih banyak ketidak adilan yang kerap menimpa rakyat kecil di negeri ini.

Semoga tulisan singkat dari Saya ini mampu menggerakkan hati ‘mereka’ yang paham akan keadilan agar bisa menjalankan hukum dengan seadil-adilnya tanpa adanya pandang bulu.

Demikian dari Saya, semoga bermanfaat.



Sabtu, 03 Maret 2012

Tak Seperti Yang Terlihat


Kawan tentunya tahu tentang fatamorgana. Suatu keadaan yang sering kita alami ketika kita melihat ke kejauhan di sepanjang rel kereta api. Ketika itu kita akan melihat adanya air. Keadaan serupa yang sering terjadi pula di padang gurun yang gersang. Saya tidak akan membahas tentang mengapa hal itu (fatamorgana) terjadi karena saya yakin kawan lebih paham tentang itu.

Berbicara tentang fatamorgana, pernahkah kawan mengalami situasi yang sama seperti fatamorgana dalam keadaan sehari-hari dimana kawan berada di tempat yang keadaannya tidak sama dengan si tempat tersebut? Kita ambil sekolah sebagai contohnya. Mungkin sewaktu kawan masih duduk di bangku sekolah pernah mempunyai pemikiran yang sama dengan saya, dimana sekolah tak ubahnya seperti penjara terselubung. Keadaannya sama seperti penjara namun bedanya dengan penjara yang sesungguhnya ialah sekolah adalah penjara bagi orang-orang terpelajar.

Ada begitu banyak peraturan. Kebanyakan dari peraturan tersebut berisi larangan. Bagi saya, yang pada waktu itu sedang dalam masa pecarian jati diri, sangatlah tidak efektif dan justru hanya akan membangun persepsi yang negatif tentang sekolah. Ditambah lagi dengan para pengajar yang notabene pembuat peraturan tersebut justru secara terang-terangan melanggarnya. Perilakunya persis wakil rakyat kita di gedung DPR nun jauh disana, mereka yang membuat mereka yang melanggar.

Ketika kebebasan berkreasi dibatasi, ketika gerak-gerik perilaku siswa diawasi, ketika itu pula lah keadaan seperti penjara terasa begitu nyata.

Semua kegiatan (pribadi) yang diadakan diluar sekolah, walaupun itu tidak megatasnamakan kegiatan sekolah langsung dicurigai, padahal bukankah mereka selalu mengajarkan kami  untuk tidak su’udzon terhadap segala sesuatunya? Dan masih banyak lagi peristiwa yang mereka ajarkan kapada kami justru mereka yang melanggarnya seakan mereka lupa atas apa yang mereka ajarkan kepada kami.

Atas nama kemerdekaan berkreasi dan berbendapat, tulisan ini sengaja dibuat. Tentunya saya juga menghormati jika kawan mempunyai pendapat yang berbeda dengan pendapat yang saya tuangkan ke dalam tulisan ini. Namun tentunya kawan juga pasti sependapat dengan saya kalau perbedaan itu indah.

Demikian, semoga bermanfaat^^