Senin, 06 Februari 2012

Gelombang ombak yang menerpa bumi pertiwiku ...

Di Indonesia, segala sesuatunya mudah ditebak. Kebanyakan jika ada sesuatu yang lagi ngetrend maka hal itu akan menimbulkan efek yang besar sekali bagi masyarakatnya. Contohnya adalah ketika ada bocah yang ngetrend  gara-gara lypsync via youtube maka 'berduyun-duyunlah' masyarakat Indonesia ikut-ikutan membuat video lypsinc dan menunggahnya ke youtube dengan harapan supaya bisa ikut terkenal seperti artis idolanya.


Padahal kalo menurut Saya, segala sesuatu  yang bersifat instan itu gak baik dan biasanya kurang bisa bertahan atau awet lama. Contoh kecilnya dalam dunia makanan yaitu mie instan. Ternyata mie instan bukan cuma kandungan nutrisinya yang kurang, tapi juga bisa merugikan kesehatan bagi mereka-mereka yang mengkomsumsi salah satunya menurut dokter mie instan penyebab timbulnya kanker, hal itu disebabkan oleh zat lilin sebagai campuran pembuatan mie instan yang berfungsi agar mie instan tidak lengket saat dimasak. Walaupun hasil dari penelitian Badan POM isu lilin yang ada dalam mie instan dinyatakan tidak benar.


Kemudian dalam bidang dunia entertainment, contoh kecilnya adalah ajang pencarian bakat yang terkesan instan sekali dalam hal menjadikan pemenangnya sebagai seorang idola baru di ranah dunia entertainment. Padahal kalau kita lihat, kepopuleran sang pemenang kontes tidak akan bertahan lama seiring berjalannya waktu ditambah lagi kontes tersebut kembali diadakan lagi tanpa jeda waktu yang lama setelah si pemenang kontes terpilih. Hal ini sangat aneh sekali, sehingga tak heran jika kemudian yang muncul di benak kita adalah penyelenggaraan kontes tersebut hanya mengincar keuntungan semata dibandingkan dengan tujuan kontes itu sendiri yakni mencari bakat dalam bidang entertainment.


Kembali lagi ke topik, dewasa ini bangsa Indonesia menurut saya berada di titik nadir kemanusiaannya itu sendiri. Bagaimana tidak, berabad-abad bangsa ini (melalui perjuangan nenek moyang kita) melawan serta mengusir penjajah, menuntut kemerdekaan agar dapat berdiri sendiri, menjadi bangsa yang mandiri. Namun setelah merdeka, kenyataannya sungguh mencengangkan. Pemuda Indonesia sekarang ini seperti menjadi 'pengkhianat' bagi para pahlawan kemerdekaan. Budaya konsumerisme di Indonesia pun sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, kini tak heran masyarakat kita cenderung menjadi seorang pemalas.


Selain hal yang telah Saya paparkan di atas, ada satu lagi pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan yakni identitas bangsa. Bangsa ini seakan kehilangan jati diri, kehilangan identitasnya seiring dengan datangnya gempuran-gempuran budaya asing berkedok globalisasi yang menghantam bumi pertiwi. Yang teranyar adalah kasus merebaknya Boyband dan Boygirl tanah air. Saya sangat miris sekali ketika melihat orang kita bernyanyi dan menari dengan style korean menirukan boyband yang berasal dari negeri ginseng tersebut. Mereka bangga dengan budaya orang lain ketimbang budaya negeri sendiri, sungguh sangat menyedihkan. Dengan demikian Saya menaruh curiga bahwa hanya sedikit dari mereka yang hafal akan lagu kebangsaan kita atau lagu-lagu wajib kita , selebihnya mereka tentu fasih dan khatam akan lagu-lagu asing.


Demikianlah yang bisa Saya tulis (untuk sementara ini). Semoga bisa dijadikan pembelajaran bagi kita. Semoga kita bisa menjadi rakyat dari bangsa yang telah seutuhnya merdeka dari segala bentuk penjajahan. Lebih dan kurangnya Saya mohon maaf. Kritik dan saran yang membangun Saya harapkan agar bisa membantu proses pendewasaan pada diri Saya khususnya. Sekian....


Salam,



2 komentar:

Bagi yang sudah berkunjung silakan jangan lupa isi komentarnya disini...
Terimakasih^^