Rabu, 29 Februari 2012

Antara Pilot, Shabu dan Manajemen Bobrok ...

Melihat maraknya kecelakaan transportasi akhir-akhir ini sangat menakjubkan. Bagaimana tidak,  berita kecelakaan transportasi mulai dari kecelakaan darat, laut, dan udara silih berganti menghiasi headline news stasiun televisi tanah air. Menanggapi kecelakaan darat yang lebih dominan, sampai-sampai waktu itu saya pernah membaca status facebook apatis cenderung nyeleneh teman saya yang bunyinya kurang lebih seperti ini :

"Mau naik angkot tapi takut pemerkosaan, mau naik busway tapi takut pencopetan, mau naik kereta tapi berdesakan rawan pencabulan, mending jalan aja... eh tapi ntar pas jalan takut ketabrak Xenia mautnya si Afriyani Susanti... mending di rumah aja... wkwkwk :p"

Terlihat sekali dari status teman saya itu bahwa transportasi (khususnya di darat) sudah tidak aman, baik itu dari segi kriminalitasnya maupun tingkat kecelakaannya. Paling tidak status tersebut cukup mewakili hati dari para pengguna transportasi darat.

Khusus untuk transportasi udara, sepertinya menarik sekali untuk dibahas. Baru-baru ini diberitakan ada oknum pilot dari sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang kedapatan mengkonsumsi narkoba jenis shabu-shabu. Untuk kawan yang belum melihat beritanya, silakan klik disini.

Bisa dibayangkan, apabila saya berada di sebuah pesawat yang pilotnya nyabu pasti sudah ketakutan setengah mati. Karena apabila dibandingkan dengan transportasi lainnya, persentase keselamatan dari kecelakaan transportasi udara itu jauh lebih rendah. Jadi hanya kecil kemungkinan kita bisa selamat dari kecelakaan pesawat terbang karena kebanyakan dari berita yang saya dengar sih rata-rata korban kecelakaan pesawat terbang itu ditemukan sudah tidak bernyawa.

Sebelum menyoroti lebih jauh tentang pilot yang nyabu, Saya ingin sedikit membeberkan beberapa fakta mengenai sabu-sabu itu sendiri.

Shabu-Shabu


Meth-amphetamine, yang di Indonesia disebut shabu-shabu, ice atau speed berdampak merusak otak dalam jangka panjang. Akibatnya fungsi koordinasi dan memory terganggu hebat. Narkotika jenis ini bukan hanya ilegal tetapi amat berbahaya. Wajar jika institut nasional AS untuk kecanduan narkotika-NIDA memperingatkan bahaya meth-amphetamine. Sebab kasus penyalahgunaan speed, ice, crystal atau di Indonesia dikenal dengan nama shabu-shabu, terlihat meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Para pengguna narkotika jenis Meth-amphetamine semacam shabu-shabu, memang dilaporkan jarang sakauw ketika tubuhnya memerlukan narkotika tsb. Efek pemakaian narkotika ini, adalah perasaan gembira berlebihan dan seolah tidak pernah kekurangan energi.  Setelah pengaruhnya habis, penggunanya bisa tiba-tiba merasa kosong, kehabisan energi dan mengalami depresi berat. Efek eforia dan paranoia yang menyertainya, tidak jarang menyebabkan penggunanya celaka. Pernah dilaporkan seorang pemakai Meth-amphetamine melompat dari kereta api yang sedang melaju cepat, karena tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana fantasi.


Nah, diatas dijelaskan bahwa efek daripada nyabu itu sendiri ialah tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana fantasi atau dalam istilah gaulnya itu 'nge-fly'. Ketika seorang pilot sedang menerbangkan pesawat dengan kondisi nge-fly, mungkin yang ada di benaknya ialah seperti menerbangkan pesawat dalam dunia game saja dimana nyawa seseorang tidak begitu berarti. Keadaan seperti itu sebenarnya berbahaya sekali untuk dia maupun para penumpang.

Seperti biasa, sebagaimana ciri khas di negeri ini, yaitu bahwa sebuah berita kalau sudah menjadi opini publik baru ditanggapi oleh pihak terkait. Seperti berita yang saya baca di VOA yang selengkapnya bisa kawan baca disini. Menurut pandangan mata awam Saya, seharusnya sifat 'mencari kambing hitam' ketika ada permasalahan itu harus segera dihilangkan. Jangan hanya menekan satu pihak saja (dalam hal ini pilot), kita harus lebih adil dalam menanggapinya.

Mana mungkin ada asap kalau tidak ada api. Mungkin peribahasa itulah yang cukup menggambarkan kasus tersebut. Mana mungkin seorang pilot nyabu kalau tidak ada masalah. Usut punya usut, (katanya) mereka nyabu untuk ngilangin stress karena salah satu alasannya adalah tuntutan manajemen untuk terbang melebihi 110 jam setiap bulannya. Nah dari sini sudah terlihat mereka sebenarnya berada dalam tekanan juga. Bukan bermaksud membenarkan perilaku oknum pilot tersebut, namun saya rasa pihak terkait pun hendaknya menyelidiki manajemen yang seperti itu.

Sedikit saran untuk manajemen yang menerapkan peraturan seperti itu, seharusnya mereka menentukan target jam terbang yang realistis saja. Target tidak perlu terlalu tinggi, jangan hanya meraup keuntungan tanpa memikirkan kenyamanan kerja para pegawai serta keselamatan para penumpang. Karena pada hakikatnya sebuah maskapai penerbangan itu bisa maju karena para penumpang. Kalau sudah begini, ketika keselamatan penumpang diabaikan, secara otomatis perusahaan akan bangkrut karena mereka akan beralih ke maskapai penerbangan yang lain.

Kemudian untuk pihak terkait (khususnya pemerintah), jangan dibiasakan untuk menindaklanjuti suatu masalah ketika permasalahan tersebut sudah muncul dan menjadi hits di berbagai headline news surat kabar kita serta menjadi trending topic di berbagai situs jejaring sosial. Seharusnya mereka bisa lebih cepat tanggap lagi untuk mencegah terulangnya kasus tersebut.

Selalu ada hikmah dibalik sebuah peristiwa. Dan hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini ialah ketika kita mengalami sebuah tekanan (stress), sebaiknya jangan mengatasinya dengan barang haram semisal narkoba, karena selain tidak bermanfaat, narkoba juga sangat membahayakan kesehatan kita. Coba lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semoga dengan itu kita bisa tenang walaupun seberat apa pun permasalahan yang kita hadapi.

Akhir kata, wassalam. Semoga bermanfaat^^


14 komentar:

  1. tapi katanya kalo gak pake ini pilot bakal cape hehehe ._. saya juga bingung

    BalasHapus
  2. mantep ulasannya...keep writing gan...nitip link yap http://phiscarosyady.blog.ugm.ac.id/2012/02/29/profesi-petugas-sampah-minim-apresiasi-sarat-kontribusi/comment-page-1/#comment-36

    BalasHapus
  3. wah, istri dan anak2ku kaget juga dengan armada dengan pilot shabu ini, soalnya kami sekeluarga pernah punya pengalaman yang tidak menyeenangkan juga sih hingga ketakutan numpang lagi - mudahan dipetrbaiki yang kualitas layanan x - salam blogger

    BalasHapus
  4. heu jaman sekarang emg semua udah bejat bang damas, tp qta ga semestinya juga
    menjatuhkan nama si pilot ini yang sepenuhnya bersalah, saya yakin pasti dari pihak
    management nya juga sudah ada yang tau tapi karna demi kondisi badan yg menurut isu
    bila tak menggunakan barang itu cepat lelah ya jadi barnag semacam itu dilegalkan
    dengan upaya kehati-hatian pada penggunaannya, heummmm makin rusak aja tansportasi indonesia

    BalasHapus
  5. ya begitholah rakyat indonesia yang selalu menyalahgunakan sesuatu...

    BalasHapus
  6. ya gimana bagusnya aja sih, atuh gmn klo nggk pake itu tar pilotna ngantuk, ya mungkin pemakaiannya musti dibatesin aja x,

    BalasHapus
  7. ok lah klo gtu, gw diem jha d kmar.! Hahha,,,

    BalasHapus
  8. Nice Blog,,, Keep blogging

    BalasHapus
  9. nice gan... saya juga baru tahu kalau kewajiban 110 jam setiap bulannya.

    BalasHapus

Bagi yang sudah berkunjung silakan jangan lupa isi komentarnya disini...
Terimakasih^^